blogg visitors

BACKPACKER SUKAMADE, KAWAH IJEN, TELUK HIJAU, TELUK DAMAI DAN PULAU MERAH



Hi gan…. Kali ini ane mau share pengalaman serta tipspetualangan kita di Banyuwangi ( Kawah Ijen, Sukamade, Teluk hijau, teluk damandan red island banyuwangi.. semuanya toppppppp markotoppp banget.. pokoknyamegangg dehhh viewnya.
Personil kita terdiri dari :
-          Aku Cris, yang buat acara ini sejak beberapa bulan yang lalu
-          Vivien, teman backpackerku.. dari mana ya ??? lupa…. Soalnya tempat tinggalnya banyak neh.. hahaha ( wakatobi)
-          Budhi , temannya vivin dari balik Papan yang udah bosan naik turun gunung. Hehhe
-          Diana, dari jekarda yang sukanya foto – foto dan di foto
-          Andya, dyah, krisna dan Yoni teman kuliah di STP Satya Widya Sby
-          Akbar, dari jekardah yang takut jamila
-          Mad, dari jekarda yang sukanya menunggu,
-          Dan satu lagi, Iwan ( suku Osing / tuan rumah ) yang diganti namanya menjadi Anang karena logatnya ngemix max deh
Meeting point awal kita di stasiun Gubeng ( Aku, budhi, dianan, andya, dyah, krisna, akbar, mad dan Yoni ), di sini kita hamper ketinggalan 1 personil kita ( krisna ) dia lupa membawa identitas apapun, secara sekarang naik KA udah ketat, alhasil mukzizatpun datang dan ternyata oh ternyata KTMnya masih ada di tasnya.
Perjalanan dari Surabaya ke Banyuwangi ditempuh 7 jam dengan KA Sri Tanjung, akhirnya kita sampai di banyuwangi ( stasiun Banyuwangi baru ) jam 21:00. Di stasiun viven sudah menunggu kedatangan kami. Setelah itu makan nasi goring depan stasiun + es the ( Rp 9.000 ). Jam 22:00 pak slamet dan anaknya datang menjemput kami dengan troper, repacking dan bersih – bersih di SPBU. Jam 23:45, setelah semua ready, langsung nancap gas ke paltuding, perjalanan kurang lebih 1,5 jam.
Sampai di paltuding, beli tiket masuk kawah ijen Rp 2.000 setelah itu hiking, disini kita mulai berpencar ( bukan nyari harta karun loh) diana, vivien, budi, yoni , akbar dan mad duluan untuk mengejar blue fire, sedangkan aku harus menemani krisna, dyah dan andya karna ini pengalaman pertama naik gunung jadi lumayan lemot, kita muncak jam 05:00. Setelah itu turun dan sampai kembali di Paltuding jam 08:00.
Setelah dari Paltuding, kita bersih – bersih di kali , deket licin. Airnya dingin dan jernih bisa fish spa juga. Hahahaha. Perjalanan dilanjutkan ke Banyuwangi Kota untuk menjemput Iwan, anak suku osing yang logatnya campur sari deh, jadi kaya Anang
Perjalanan kurang lebih 5 jam dari Banyuwangi menuju Sukamade, istirahat makan di Sarogan ( Rp 7.000) . pengalaman yang tidak dilupakan adalah naik di atas troper melewati sungai dan pokoknya adventure deh perjalanan ke Sukamade.Sesampainya di Sukamade, buka tenda , makan malam yang disediain oleh penginapan Sukamade ( Rp 9.000 ). Jam 20:00 menuju pantai sukamade, jaraknya 600 meter dari tenda kita. Kita dipandu oleh ranger ( fee ranger Rp 100.000 ) sesampainya Pantai, dilarang untuk menyalakan lampu dan berisik. Sayangnya kita kurang beruntung pemirsah, karena penyunya tidak bertelur, Cuma gali gali lubang aja. Kata rangernya pasirnya terlalu kering.hmmmm. kembali ke tenda , api unggun dan istirahat…..
Hari berikutnya setelah sarapan seadanya, kita meninggalkan sukamade dan perjalanan di lanjutkan ke Teluk Hijau, kurang lebih 45 menit. Setelah itu  trekking 30 menit ke teluk damai. Banyak batu di pesisir pantai dan akhirnya surpriseeee.. “ teluk Hijau “  kerennnnyaa sampai tumpeh tumpehh.. amazing pokoknya teluk hijau. Berenang di sini harus hati – hati karena tarikannya ombaknya lumayan kuat. Setelah itu kembali ke trooper dan cap cus ke Pulau Merah. Rencana awal makan siang di pantai Rajagwesi, tapi ikannya abis, jadi kita makan di warung ayam pedas ( Rp 11.000)
Perjalan ke Pulau merah ditempuh dalam waktu 2,5 jam. Awalnya kita berencanaa untuk camping di pulau merah tetapi karena ada yang mau pulang ngejar jadwal KA dan di sini ngetend  harus bayar Rp 15.000 / anak. Kembali ke banyuwangi dan stay di stasiun sampai pagi karena jadwal kereta kita ada yang jam 05:00 dan 06:30..
-          Sewa 2 troper : Rp 2.700.000
-          Kalau mau liat blu fire naiknya harus dini hari jam 02:00an
-          Kalau mau nunggu penyu bertelur, harus sabar dan jangan berisik, ikuti kata rangernya tapi kalo penyunya belum bertelur minta rangernya untuk nunggu, kadang kadang sampai dini hari.

BACKPACKER KE PULAU SEMPU MALANG



Pulau Sempu adalah salah satu pulau yang terletak di bagian selatan Pulau jawa, tepatnya di kabupaten Malang, Jawa Timur ( Malang Selatan ). Pulau ini masuk dalam kawasan cagar alam yang dilindungi oleh Perum Perhutani, sehingga pulau ini tidak berpenghuni. Luas dari pulau ini 877 hektar.
Beberapa waktu yang lalu, saya bersama teman - teman backpacker indonesia ( Vivin dan Bahrul ) mengunjungi pulau ini dan kali ini saya mau share bagaimana mengakses pulau yang terkenal karena terdapat Laguna yang indah, yaitu Segara Anakan.
- Start dari Surabaya menggunakan kereta api Penataran ( Rp 4.000) jam 06:00 menuju malang. Di dalam perjalanan saya bertemu dengan penumpang lain yang hendak menuju malang juga, kebetulan orang asli Malang. Saya bertanya stasiun paling dekat dengan terminal arjosari dan mereka menyarankan untuk turun di stasiun blimbing dan naik angkot menuju terminal arjosari, ( 10 menit ).
- Tiba di malang jam 08:00, saya langsung mencari angkot menuju Arjosari ( Rp 2.500). Sebelumnya saya sudah membuat janji dengan Bahrul dan Vivien yang datang dari Jogja, sehingga sesampainya di Arjosari saya langsung mencari dan menghampiri mereka yang sudah menunggu dari jam 05:00 pagi.
- Makan pagi di warung soto depan Terminal Arjosari ( Rp 7.000 ) sambil berbincang - bincang dan mengatur acara pada ke Sempu. Kami bertukar ide mengenai cara akses ke Sendang Biru berdasarkan info yang kami dapat sebelumnya.
- Setelah makan dan kenal satu sama lain, kami memulai perjalanan kami dari terminal arjosari menuju Terminal gadang dengan angkot AG ( Rp 3.500 ). Didalam angkot kami bercengkrama untuk mempererat pertemanan diantara kami, dan ternyata Vivien dan Bahrul baru pertama kali ikut tour backpacker kaya gini. ( hehehe )
- 1 jam perjalanan dari Arjosari menuju Gadang, setelah itu perjalanan dilanjutkan dengan menggunakan minibus menuju Pasar Turen ( Rp 5.000)
- Sampai di Pasar Turen kami mencari mobil L300 menuju sendang biru (Rp 20.000 ). Disinilah tantangan pertama dimulai ( lebay ), but we are on vacation ,so enjoy aja deh. Angkot ini akan berangkat jika penumpangnya penuh ( overload ), dimana  normalnya kendaraan seperti ini memuat 10 orang, tetapi angkot ini memuat kurang lebih 19 orang ( gilaaaa ). Didalam angkot kami bertemu dengan Riska dan Icha yang berencana ke Pulau Sempu juga. Mereka sudah menunggu sekitar 2,5 jam di angkot...
- Setelah penuh, angkot mulai meninggalkan pasar Turen menuju Sendang Biru, pemandangan yang indah selama perjalanan membuat perjalanan 1,5 jam tidak terasa.
- Finaly..... :) kami sampai di Sendang Biru. Berdasarkan Info yang kami dapatkan bahwa Pulau sempu ditutup untuk pengunjung jam 14:00, kami langsung mencari tempat registrasi yang di kelolah oleh perum Perhutani.
Awalnya riska dan icha berniat untuk menginap semalam di sendang biru, tetapi karena satu dan lain hal, mereka memutuskan untuk bergabung bersama saya, Bahrul dan Vivien ( horeeee.. )
- Di kantor perhutani ini kami mendapatkan informasi tentang Cagar Alam Pulau Sempu oleh petugas yang ramah, mereka menawarkan jasa guide juga ( kalau baru pertama kali ke Pulau Sempu ).Selain itu kami menyewa tenda ( upss, tenda pramuka ), makan siang dan mempersiapkan logistik untuk berkemah di Pulau yang tidak berpenghuni itu dengan rincian biaya  : ijin masuk ( Rp 25.000 / group), tenda (Rp 50.000 untuk 6 orang ), guide ( 150.000 ) kapal ( Rp 100.000 ) Nasi bungkus ( Rp 10.000 ), Air mineral .
- Setelah semuanya siap kami langsung menuju kapal yang telah di sewa ( PP ) perjalanan yang singkat membuat kami tidak puas ( 10 menitan ) berada di kapal ( pengennya lebih lama lagi... lol )
- Sesampainyadi Teluk semut kami melanjutkan perjalanan ( 1 jam ) menyusuri hutan untuk menuju segara anakan. Sepanjang perjalanan kami mengambil kayu - kayu kering untuk api unggun malam hari.
- Surprised... Akhirnya kami sampai juga di Segara Anakan dan wowwoww keren bangettttt ( alay )
- Bergotong royong, kami mendirikan tenda pramuka di pesisir pantai, setelah itu foto - foto di sekitar segara anakan...
- Hari mulai gelap, kami berkumpul di dekat tenda, sambil bercerita, main games , dan memandang indahnya bintang di langit.Kami datang di waktu yang tepat, Kebetulan ada rombongan ( bukan jamaah haji pastinya ) anak - anak universitas Brawijaya Malang yang pandai bermain gitar dan suaranya keren - keren dan friendly.
- Jenggg.... Jenggg.. Pukul 05:00, ombak dari lautan lepas menghantam karang dan menerobos tenda - tenda di pantai, dan seketika pesisir pantai yang kering terendam sehingga  kamipun harus mengungsi. Ada 3 orang yang luka parah terhempas ombak dan harus dibawa ke Puskesmas di sendang Biru.
- Setelah matahari terbit kamipun sibuk dengan berbagai kegiatan: foto - foto , berenang, bermain bola, ada juga yang membuat video, dll.
- Jam 09:00, kami bergegas meninggalkan Segara anakan dan kembali ke Sendang Biru.
- Angkot L300, mengantarkan kami kembali ke malang, dan kamipun berpisah di malang untuk kembali ke Jogja ( Vivien dan bahrul ) Riska dan Icha ( Solo ) saya ( Surabaya )...
NOTED :
- Di Segara Anakan tidak ada sumber air tawar jadi bawa air yang banyak dari Sendang Biru )
- Ikutilah petunjuk yang diberikan oleh lokal guide, dan tanda larangan yang ada, karena ada lokasi yang tidak boleh dikunjungi ( tebing - tebing yang berbatasan dengan lautan lepas )
- Jika datang dengan rombongan lebih dari 10, bisa menyewa angkot Arjosar atau Gadang ke Sendang Biru.
- Kalau mau berenang, sebaiknya keesokan harinya sebelum balik ke Sendang Biru, karena tidak ada air tawar untuk bilas atau mandi..

Airterjun Madakaripura Desa Sapih Kecamatan Lumbang - Probolinggo






                                           MADAKARIPURA, PATUNG GAJAH MADA





          MADAKARIPURA WATERFALL / AIRTERJUN MADAKARIPURA

Lokasi : desa sapih,kecamatan Lumbang ,Jawa Timur , Indonesia, ( 620dpl )
Tinggi airterjun Madakaripura : 200 meter (660 ft )
          sungai menuju airterjun madakaripura

Jalan ke airterjun madakaripura : lokasi Airterjun Madakaripura tidak jauh dari taman nasional Bromo Tengger Semeru. Apabila dari Probolinggo ,setelah polsek lumbang ,ada pertigaan dengan plang yang bertuliskan “AIRTERJUN MADAKARIPURA” dari situ belok kanan,mengikuti jalan yang ada (15 menit ).Setelah itu sampai di loket pembelian karcis dan jalan bebrapa menit lagi maka sampai di di parkiran.Dari parkiran perjalanan soft trek melewati sungai dikarenakan jalannya rusak akibat longsor.Perjalanan kurang lebih 25 menit untuk sampai di airterjun utama.pemandangan yang sangat menakjubkan ,cocok bagi para penyuka tantangan..
Harga Tiket : Rp 3000
Parkir : Rp 5000
Histori : Airterjun Madakaripura dulu merupakan tempat pertapaan patih gajah mada saat menyatukan bangsa Indonesia, tempat yang tenang ,dikelilingi oleh hutan belantara dijadikan temapt yang tepat untuk bertapa di dalam gua dibelakang airperjun madakaripura.

airterjun madakaripura, probolinggo

Fasilitas :tempat parkir, toilet umum, warung ,persewaan payung












Waktu yang tepat :musim panas / musim kemarau, karena disaat musim hujan sangat berbahaya karena kita melewati / memasuki lembah jadi jika hujan sangat berbahaya.


                     penunjuk jalan di madakaripura

menyebrangi anak sungai
Airterjun Madakaripura merupakan salah satu airterjun yang paling cantik atau terbaik yang ada di Indonesia, sayangnya belum diexplor.
Yang disayangkan juga,masyarakat sekitar sangat materialistis.Wisatawan yang berkunjung kesana diharuskan menyewa guide yang sebenarnya adalah penunjuk jalan dengan bayaran yang cukup mahal (Rp 50.000) selain itu mereka juga menuntut diberikan tip.kadang juga, Kendaraan yang diparkir juga dicuci tanpa pemberitahuan sebelumnya, sangat disayangkan L







               lembah airtejun madakaripura

PANTAI PAPUMA JEMBER


PANTAI PAPUMA JEMBER

PAPUMA (pasir putih malikan ) terletak di desa lojejer,kecamatan wuluhan, jember, Jawa Timur.Pantai memiliki pesona keindahan tanjungnya yang sangat menakjubkan bagi setiap orang berkunjung.Pantai ini dikelolah oleh perum perhutani II jawa timur.37 km selatanjember.DenganLuas 25 hektar merupakan salah satu tanjung yang sangat indah.Sebelum mencapai kawasan pantai papuma kita melewati perkebunan warga serta perkebunan yang yang di kelolah perum perhutani yang sangat hijau dan indah.Setelah  menyusuri hutan dan melewati tanjakan yang sedikit terjal, ditemani monyet – monyet yang akan menyambut kedatangan kita,mata kita langsung tertuju pada lautan luas serta pasir putih yang sangat indah.Dari ketinggian tersebut kita sudah membayangkan apa yang akan dilakukan setelah tiba di sana.
Pantai papuma merupakan pantai dengan tanjungnya yang sangat indah, diujung dari tanjungya terdapat dataran tinggi yang sering di sebut siti hinggil.Di siti hinggil kita dapat melihat sunrise yang sangat indah dan spektakkuler.Untuk wisatawan yang ingin bermalam di sana ,terdapat home stay yang dikelolah perum perhutani ,sayangnya fasilitasnya kurang memadai dan sedikit menyeram apabila musim sepi.Di sekitar pantai banyak lesehan atau warung yang menjual ikan bakar (24 jam)
Akses menuju pantai papuma cukup mudah.diantaranya :
  • -          Kereta api dari surabaya menuju jember dan turun di stasiun jember, setelah itu dapat menggunakan taxi atau kendaraan umum sampai di ambulu.Dari ambulu dapat menyewa ojek (20k).Jarak tempuhnya 4 jam kereta api dan 45 menit menggunakan taxi
  • -          Menggunakan bis dari Surabaya (terminal Bungurasih) menuju ambulu,setelah itu dapat menyewa ojek ke pantai papuma.Perjalannan kurang lebih 5 jam.



Kawah Ijen Dari Banyuwangi


Kawah Ijen dari Banyuwangi



Kawah ijen adalah salah satu kawah terbesar dan terasam di dunia. Terletak di antara 2 kabupaten,yaitu Kabupaten Bondowoso dan Kabupaten Banyuwangi Jawa Timur.Kawah Ijen Berada di ketinggian 2386 meter dpl.Keindahan Kawahnya yang berwana hijau tosca sangat mempesona.Perjalanan yang panjang pun akan terbayar semua dengan pesona Keindaha Kawah ijen ,sehingga wisatawan yang kembali akan membawa kenangan yang tidak akan terlupakan dan jejak kaki sepanjang perjalanan menuju kawah ijen.



- Perjalanan Dari Surabaya Menuju Kawah ijen melewati Banyuwangi adalah sebagai berikut :
              Kereta Api : Mutiara Timur Sng                   09.00 -   15.52
                                 Sritanjung BW                          14.10 -     21.15
                                  logawa Jr                                 16.10 -     20.19    
              Bus  : Selalu ada
-  Setelah sampai di banyuwangi wisatawan dapat menginap di cottage atau penginapan yang ada di sekitar       ketapang.diantararanya Hotel New Banyuwangi beach (Rp 60.000 - 125.000) di pinggir pantai.
-  untuk mencapai Kawah ijen melewati banyuwangi wisatan harus menggunakan jeep atau trooper dari             banyuwangi melewati licin dan sampai di paltuding.Harga Jeep sekitar Rp 450.000 - Rp 500.000.
-  Pagi Hari jam 04:00, Berangkat ke Paltuding, sekitar 1 - 1,5 jam. Setelah sampai di Paltuding, membeli        tiket seharga Rp 6000 untuk domestik dan Rp 20000 untuk wisatawan asing .
 
-  Mendaki sejauh 3 km atau sekitar  1,5 jam perjalanan.
Sampai di Kawah ,menikmati pemandangan Kawah yang sangat indah.turun kembali ke paltuding dan Kembali ke banyuwangi.
Dalam perjalanan menuju Kawah ijen kita akan melihat para penambang Belerang yang sangat kuat dan gigih berjalan sejauh 3 km dan memikul belerang 50 - 100 km setiap harinya.(crispim: cryst.guteres@yahoo.com )


Natural Toilet ke kawah Ijen



Penambang Belerang (sulfur miners)




Bangun Jam 03:30 menggunakan Truk menuju Paltuding
Kawah Ijen
Sulfur Miners


WISATA PETIK APEL kELOMPOK TANI MAKMUR ABADI BATU-MALANG



WISATA PETIK APEL KELOMPOK TANI MAKMUR ABADI BATU-MALANG

Berlokasi di jalan Diponegoro 10 desa tulungrejo Kec.bumi aji Batu -Malang

Wisata Petik Apel adalah salah satu wisata alternatif yang ditawarkan di Kota Batu.Dimana wisatawan dapat memetik Apel langsung dari Pohon dan bisa makan sepuasnya :)

 KELOMPOK TANI MAKMUR ABADI BATU adalah Usaha yang dikelolah secara berkolompok oleh para petani-petani (koperasi) yang berbasis ekonomi kerakyatan.
Kawasan Perkebunannya berada diantara lereng gunungArjuno dan Anjasmoro.Apel-apel ini dibudidayakan dengan sistem ramah lingkungan dimana pupuk yang di gunakan adalah pupuk Organik.Bisa di lihat di dekat perkebunan terdapat kandang sapi yang nantinya kotorannya akan di olah menjadi pupuk.

Tiket Masuk :Rp 20.000
- Pemandu wisata yang akan memberikan welcome Drink sewaktu masuk ke dalam perkebunan apel.
- Penjelasan tentang jenis - jenis apel yang ada.
- Makan buah apel sepuasnya di dalam kebun.
- jika ingin di Bawa pulang ,harganya Rp. 15.000/kg tetapi kadan-kadang ti tambah.


Jenis Apel yang Tersedia
- Apel Manalagi
- Romebeauty
- Anna
- Hwang Lien

SUKU TENGGER


 SEJARAH SUKU TENGGER
Suku Tengger adalah sebuah suku yang tinggal di sekitar Gunung Bromo, Jawa Timur, yakni menempati sebagian wilayah Kabupaten Pasuruan, Lumajang, Probolinggo, dan Malang.
Menurut mitos atau legenda yang berkembang di masyarakat suku Tengger, mereka berasal dari keturunan Roro Anteng yang merupakan putri dari Raja Brawijaya dengan Joko Seger putra seorang Brahmana. Nama suku Tengger diambil dari akhiran nama kedua pasang suami istri itu yaitu, “Teng” dari Roro Anteng dan “Ger” dari Joko Seger. Legenda tentang Roro Anteng dan Joko Seger yang berjanji pada Dewa untuk menyerahkan putra bungsu mereka, Raden Kusuma merupakan awal mula terjadinya upacara Kasodo di Tengger.
Menurut beberapa ahli sejarah, suku Tengger merupakan penduduk asli orang Jawa yang pada saat itu hidup pada masa kejayaan Majapahit. Saat masuknya Islam di Indonesia (pulau Jawa) saat itu terjadi persinggungan antara Islam dengan kerajaan-kerajaan yang ada di Jawa, salah satunya adalah Majapahit yang merasa terdesak dengan kedatangan pengaruh Islam, kemudian melarikan diri ke wilayah Bali dan pedalaman di sekitar Gunung Bromo dan Semeru. Mereka yang berdiam di sekitar pedalaman Gunung Bromo ini kemudian mendirikan kampung yang namanya diambil dari akhiran nama pemimpin mereka yaitu Roro Anteng dan Joko Seger.
KEADAAN GEOGRAFIS 
 Luas daerah Tengger kurang lebih 40km dan utara ke selatan; 20-30 km dan timur ke barat, di atas ketinggian antara 1000m - 3675 m. Daerah Tengger teletak pada bagian dari empat kabupaten, yaitu : Probolinggo, Pasuruan, Malang dan Lumajang. Tipe permukaan tanahnya bergunung-gunung dengan tebing-tebing yang curam. Kaldera Tengger adalah lautan pasir yang terluas, terletak pada ketinggian 2300 m, dengan panjang 5-10 km. Kawah Gunung Bromo, dengan ketinggian 2392 m, dan masih aktif .Di sebelah selatan menjulang puncak Gunung Semeru dengan ketinggian 3676 m.
 WILAYAH ADAT 
 Wilayah Adat Suku Tengger terbagi menjadi dua wilayah yaitu Sabrang Kulon (Brang Kulon diwakili oleh Desa Tosari Kecamatan Tosari Kabupaten Pasuruan )dan Sabrang Wetan ( Brang Wetan diwakili oleh Desa Ngadisari,Wanantara,Jetak Kecamatan Sukapura Kabupaten Probolinggo ). Perwakilan oleh Desa T osari dan tiga Desa tersebut mengacu pada Prosesi Pembukaan Upacara Karo yang sekaligus membukla Jhodang Wasiat / Jimat Klontong.
 Adapun Desa – Desa yang merupakan Komunitas Suku Tengger adalah Sebagai Berikut:
 Desa Ngadas, Wanatara, Jetak, dan Ngadisari ( Kecamatan Sukapura Kabupaten Probolinggo ), Desa Wanakersa, Ledokombo, Pandansari ( Kecamatan Sumber Kabupaten Probolinggo ), Desa Tosari, Baledono, Sedaeng, Wonokitri, Ngadiwono, Kandangan, Mororejo ( Kecamatan Tosari Kabupaten Pasuruan ), Desa Keduwung ( kecamatan Puspo Kabupaten Pasuruan ), Desa Ngadirejo, Ledok Pring ( Kecamatan Tutur Kabupaten Pasuruan ), Desa Ngadas ( Kecamatan Poncokusumo Kabupaten Malang),dan Desa Ranupani ( Kecamatan Senduro Kabupaten Lumajang).

 KEADAAN TANAH DAN TANAM-TANAMAN
 Keadaan tanah daerah Tengger gembur seperti pasir, namun cukup subur. Tanaman keras yang tumbuh terutama adalah agathis laranthifolia, pinus merkusii, tectona, grandis leucaena, dan swietenia altingia excelsa, anthocepalus cadamba. Di kaki bukit paling atas ditumbuhi pohon cemara sampai di ketinggian 3000 dpl yaitu lereng Gunung Semeru. Tumbuhan utamanya adalah pohon-pohonan yang tinggi, pohon elfin dan pohon cemara, sedangkan tanam-tanaman pertanian terutama adalah kentang, kubis, wortel, jagung,bawang prei(plompong tengger) dsb.
 JENIS HEWAN 
 Jenis hewan piaraan yang ada antara lain lembu, kambing, babi dan ayam kampung. Jenis binatang yang hidup secara liar di hutan-hutan adalah babi hutan (sus scrofa) rusa timur (cervus timorensis), serigala atau (muncak muntiacus), dan berkembang pula jenis macam tutul (panthera pardus), terdapat pula species burung-burungan, misalnya burung air.
IKLIM DAN CUACA 
 Iklim daerah Tengger adalah hujan dan kemarau. Musim kemarau terjadi antara bulan Mei-Oktober. Curah hujan di Sukapura sekitar 1800 mm, sedangkan musim hujan terjadi pada bulan November-April, dengan persentase 20 hari/lebih hujan turun dalam satu bulan. Suhu udara berubah-ubah, tergantung ketinggian, antara 3º - 18º Celsius. Selama musim hujan kelembaban udara rata-rata 80%. Temperaturnya sepanjang hari terasa sejuk, dan pada malam hari terasa dingin. Pada musim kemarau temperatur malam hari terasa lebih dingin daripada musim hujan. Pada musim dingin biasanya diselimuti kabut tebal. Di daerah perkampungan, kabut mulai menebal pada sore hari. Di daerah sekitar puncak Gunung Bromo kabut mulai menebal pada pagi hari sebelum fajar menyingsing.
AGAMA SUKU TENGGER
 Masyarakat Suku Tengger menganut empat agama dari lima agama yang diakui oleh Pemerintah Indonesia. Yaitu Agama Hindu , Islam ,Kristen dan Budha.
 MATA PENCAHARIAN SUKU TENGGER
 Penduduk di sekitar Taman Nasional Bromo kurang lebih sebanyak 128.181 jiwa dengan distribusi sebagai berikut: petani penggarap 48.625 orang (37,93%), buruh tani 10.461 orang (8,16%), karyawan dan ABRI 1.595 orang (1,24%), pedagang 3.009 orang (2,38%), pengrajin/industri kecil 343 orang (0,01%), dan lain-lain sekitar 64.140 orang (50,05%). Penduduk masyarakat Tengger pada umumnya bertempat tinggal berkelompok di bukit-bukit mendekati lahan pertanian. Mereka hidup dari bercocok tanam di ladang, dengan pengairan tadah hujan. Pada mulanya mereka menanam jagung sebagai makanan pokok, akan tetapi saat ini sudah berubah. Pada musim hujan mereka menanam sayuran seperti kentang, kubis, bawang, dan wortel sebagai tanaman perdagangan. Pada penghujung akhir musim hujan mereka menanam jagung sebagai cadangan makanan pokok.
 Sejak zaman pemerintahan Majapahit, tingkat perkembangan penduduk Tengger tergolong lambat. Sejarah perkembangan masyarakat Tengger tidak diketahui dengan jelas, kecuali secara samar sebagai hasil penelitian Nancy (1985).
 Masyarakat Tengger saat ini sudah ada yang membuka usaha Jasa ( Persewaan Home Stay dan Jeep Hard Top sebagai transportasi ke Bromo ),hal ini di lakukan semenjak Bromo di buka sebagai obyek wisata.
 PEMIMPIN SUKU TENGGER
Masyarakat Suku Tengger tidak mengenal dualisme kepemimpinan ,walaupun ada yang namanya Dukun adat. Tetapi secara formal pemerintahan dan adat , Suku Tengger dipimpin oleh seorang Kepala Desa ( Petinggi ) yang sekaligus adalah Kepala Adat. Sedangkan Dukun diposisikan sebagai pemimpin Ritual / Upacara Adat.
Proses pemilihan seorang Petinggi ,dilakukan dengan cara pemilihan langsung oleh masyarakat , melalui proses pemilihan petinggi.
Sedang untuk pemilihan Dukun ,dilakukan melalui beberapa tahapan – tahapan ( menyangkut diri pribadi calon Dukun ).yang pada akhirnya akan diuji melalui ujian Mulunen ( ujian pengucapan mantra yang tidak boleh terputus ataupun lupa ) yang waktunya pada waktu Upacara Kasada bertempat di Poten Gunung Bromo.
MAKANAN KHAS
 Nasi ARON ( nasi yang terbuat dar jagung tengger dengan masa tanam kurang lebih 8 bulan ).dan sambal Krangean bahannya terbuat dari bahan sambal terasi seperti biasanya,hanya saja di tambah buah Krangean ( hanya tumbuh di Tengger) bentuknya kecil seperti buah merica dan baunya harum seperti daun kemangi,wananya hijau masih segar (baru petik) dan hitam (klau sudah layu atau kering).

SIFAT DAN SIKAP SUKU TENGGER
SIFAT UMUM
 Di dalam kehidupan sehari-hari orang Tengger mempunyai kebiasaan hidup sederhana, rajin dan damai. Mereka adalah petani. Ladang mereka di lereng-lereng gunung dan puncak-puncak yang berbukit-bukit. Alat pertanian yang mereka pakai sangat sederhana, terdiri dari cangkul,sabit dan semacamnya. Hasil pertaniannya itu terutama adalah jagung, kopi, kentang, kubis, bawang prei, Wortel dsb. Kebanyakan mereka bertempat tinggal jauh dari ladangnya, sehingga harus membuat gubuh-gubuk sederhana di ladangnya untuk berteduh sementara waktu siang hari. Mereka bekerja sangat rajin dan pagi hingga petang hari di ladangnya.
 Pada umumnya masyarakat Tengger hidup sangat sederhana dan hemat. Kelebihan penjualan hasil ladang ditabung untuk perbaikan rumah serta keperluan memenuhi kebutuhan rumah tangga lainnya. Kehidupan masyarakat Tengger sangat dekat dengan adat- istiadat yang telah diwariskan oleh nenek moyangnya secara turun-temurun. Dukun berperan penting dalam melaksanakan upacara Adat. Dukun berperan dalam segala pelaksanaan adat, baik mengenai perkawinan, kematian atau kegiatan-kegiatan lainnya. Dukun sebagai tempat bertanya untuk mengatasi kesulitan ataupun berbagai masalah kehidupan.
Kehidupan pada masyarakat Tengger penuh dengan kedamaian dan kondisi masyarakatnya sangat aman. Segala masalah dapat diselesaikan dengan mudah atas peranan orang yang berpengaruh pada masyarakat tersebut dengan sistem musyawarah. Pelanggaran yang dilakukan cukup diselesaikan oleh Petinggi ( Kepala Desa) dan biasanya mereka patuh. Apabila cara ini tidak juga menolong, maka si pelaku pelanggaran itu cukup disatru (tidak diajak bicara) oleh seluruh penduduk. Mereka juga sangat patuh dengan segala peraturan pemerintah yang ada, seperti kewajiban membayak pajak, kerja bakti dan sebagainya.
 BAHASA TENGGER
 Bahasa daerah yang digunakan adalah bahasa Jawa yang masih berbau Jawa Kuno. Mereka menggunakan dua tingkatan bahasa yaitu ngoko, bahasa sehari-hari terhadap sesamanya, dan krama untuk komunikasi terhadap orang yang lebih tua atau orang tua yang dihormati. Pada masyarakat Tengger tidak terdapat adanya perbedaan kasta, dalam arti mereka berkedudukan sama.
 Contoh: Aku ( Laki-laki) = Reang , Aku ( wanita ) = Isun , Kamu ( untuk seusia)= Sira , Kamu ( untuk yang lebih tua) = Rika, Bapak/Ayah= Pak , Ibu = Mak , Kakek=Wek , Kakak= Kang , Mbak= Yuk
ASAL - USUL SUKU TENGGER
Ajaran tentang asal-usul manusia adalah seperti terdapat pada mantra purwa bhumi. Sedangkan tugas manusia di dunia ini dapat dipelajari melalui cara masyarakat Tengger memberi makna kepada aksara Jawa yang mereka kembangkan. Adapun makna yang dimaksudkan adalah seperti tersebut dibawah ini.
h.n.c.r.k : hingsun nitahake cipta, rasa karsa,
 d,t,s,w,l : dumadi tetesing sarira wadi laksana,
 p, dh, j, y, ny : panca dhawuh jagad yekti nyawiji,
 m, g, b, th, ng : marmane gantia binuka thukul ngakasa.
Apabila diartikan secara harfiah kurang lebih sebagai berikut: “Tuhan Yang Maha Esa menciptakan cahaya, rasa dan kehendak pada manusia, (manusia) dijadikan melalui badan gaib untuk melaksanakan lima perintah di dunia dengan kesungguhan hati, agar saling terbuka tumbuh (berkembang) penuh kebebasan (ngakasa ‘menuju alam bebas angkasa’)”.
Pada hakikatnya manusia adalah ciptaan Tuhan, yang dilahirkan dari tidak ada menjadi ada atau dari alam gaib, untuk mengemban tugas di dunia ini melaksanakan lima perintah-Nya dengan menyatukan diri pada tugasnya, agar di dunia ini tumbuh keterbukaan dan perkembangan menuju kesempurnaan.
Masih ada lagi tafsiran tentang aksara Jawa yang dikaitkan dengan cerita tentang Aji Saka, yaitu bahwa ada utusan, yang keduanya saling bertengkar (berebut kebenaran). Keduanya sama kuatnya (sama-sama berjaya), yang akhirnya keduanya mengalami nasib yang sama, yaitu menjadi mayat. Hal ini mengandung makna bahwa baik-buruk, senang-susah, sehat-sakit, adalah ada pada manusia dan tak dapat dihindari. Kesempurnaan hidup manusia apabila dapat menyeimbangkan kedua hal itu.

Hubungan Badan dan Roh Menurut Falsafah Tengger
 Masyarakat Tengger beranggapan bahwa badan manusia itu hanya merupakan pembungkus sukma (roh). Sukma adalah badan halus yang bersifat abadi. Jika orang meninggal, badannya pulang ke pertiwi (bumi), sedangkan sukmanya terbebas dari mengalami suatu proses penyucian di dalam neraka, dan selama itu mereka mengembara tidak mempunyai tempat berhenti. Cahaya, api dan air dari arah timur akan melenyapkan semua kejahatan yang dialami sukma sewaktu berada di dalam badan.
Masyarakat Tengger percaya bahwa neraka itu terdiri dari beberapa bagian. Bagian terakhir ialah bagian timur yang disebut juga kawah candradimuka, yang akan menyucikan sukma sehingga menjadi bersih dan suci serta masuk surga. Hal ini terjadi pada hari ke-1000 sesudah kematian dan melalui upacara Entas-entas.
Hubungan Antar-manusia Menurut Falsafah Tengger
 Sesuai dengan ajaran yang hidup di masyarakat Tengger seperti terkandung dalam ajaran tentang sikap hidup dengan sesanti panca setia, yaitu:
 i. setya budaya artinya, taat, tekun, mandiri;
 ii. setya wacana artinya setia pada ucapan;
 iii. setya semàya artinya setia padajanji;
 iv. setya laksana artinya patuh, tuhu, taat;
 v. setya mitra artinya setia kawan.
Ajaran tentang kesetiaan berpengaruh besar terhadap perilaku masyarakat Tengger. Hal ini tampak pada sifat taat, tekun bekerja, toleransi tinggi, gotong-royong, serta rasa tanggung jawab. umpamanya menunjukkan bahwa pada umumnya mereka bekerja di ladangnya dari jam 6 pagi sampai jam 6 sore setiap hari secara tekun. Sikap gotong-royongnya terlihat pula pada waktu mendirikan pendopo agung di Tosari, adalah sebagai hasil jerih payah rakyat membuat jalan sepanjang 15 km dari Tosari menuju Bromo (tahun 1971-1976). Demikian pula tanggung jawab mereka terhadap lingkungan sosial tercermin pada kesadaran rakyat untuk ikut serta menjaga keamanan, serta merelakan sebagian tanahnya apabila terkena pembangunan jalan.
Sifat lain yang positif adalah kemampuan menyesuaikan diri terhadap perkembangan, yaitu kesediaan mereka untuk menerima orang asing atau orang lain, meskipun mereka tetap pada sikap yang sesuai dengan identitasnya sebagai orang Tengger.
 Hubungan antara pria dan wanita tercermin pada sikap bahwa pria adalah sebagai pengayom bagi wanita, yaitu ngayomi, ngayani, ngayemi, artinya memberikan perlindungan, memberikan nafkah, serta menciptakan suasana tenteram dan damai.

3.4 SIKAP DAN PANDANGAN HIDUP
 Pandangan tentang Perilaku
 Sikap dan pandangan hidup orang Tengger tercermin pada harapannya, yaitu waras (sehat), wareg (kenyang), wastra (memiliki pakaian, sandang), wisma (memiliki rumah, tempat tinggal), dan widya (menguasai ilmu dan teknologi, berpengetahuan dan terampil).
 Mereka mengembangkan pandangan hidup yang disebut pengetahuan tentang watak yaitu:
 i. prasaja berarti jujur, tidak dibuat-buat apa adanya;
 ii. prayoga berarti senantiasa bersikap bijaksana;
 iii. pranata berarti senantiasa patuh pada raja, berarti pimpinan atau pemerintah;
 iv. prasetya berarti setya;
 v. prayitna berarti waspada.

Atas dasar kelima pandangan hidup tersebut, masyarakat Tengger mengembangkan sikap kepribadian tertentu sesuai dengan kondisi dan perkembangan yang ada. Antara lain mengembangkan sikap seperti kelima pandangan hidup tersebut, di samping dikembangkan pula sikap lain sebagai perwujudannya.
Mereka mengembangkan sikap rasa malu dalam arti positif, yaitu rasa malu apabila tidak ikut serta dalam kegiatan sosial. Begitu mendalamnya rasa malu itu, sehingga pernah ada kasus (di Tosari) seorang warga masyarakat yang bunuh diri hanya karena tidak ikut serta dalam kegiatan gotong-royong.
Sikap toleransi mereka tercermin pada kenyataan bahwa mereka dapat bergaul dengan orang beragama lain, ataupun kedatangan orang beragama lain. Dalam keagamaan mereka tetap setia kepada agama yang telah dimiliki namun toleransi tetap tinggi, sebab mereka lebih berorientasi pada tujuan, bukan pada cara mencapai tujuan. Pada dasarnya manusia itu bertujuan satu, yaitu mencapai Tuhan, meskipun jalannya beraneka warna. Sikap toleransi itu tampak pula dalam hal perkawinan, yaitu sikap orang tua yang memberikan kebebasan bagi para putra-putrinya untuk memilih calon istri atau suaminya. Pada dasarnya perkawinan bersifat bebas. Mereka tetap dapat menerima apabila anak-anaknya ada yang berumah tangga dengan wanita atau pria yang berlainan agama sekalipun. Namun dalam hal melaksanakan adat, pada umumnya para generasi muda masih tetap melakukannya sesuai dengan adat kebiasaan orang tuanya.
Sikap hidup masyarakat Tengger yang penting adalah tata tentrem (tidak banyak risiko), aja jowal-jawil (jangan suka mengganggu orang lain), kerja keras, dan tetap mempertahankan tanah milik secara turun-temurun. Sikap terhadap kerja adalah positif dengan titi luri-nya, yaitu meneruskan sikap nenek moyangnya sebagai penghormatan kepada leluhur.
Sikap terhadap hasil kerja bukanlah semata-mata hidup untuk mengumpulkan harta demi kepentingan pribadi, akan tetapi untuk menolong sesamanya. Dengan demikian, dalam masyarakat Tengger tidak pernah terjadi kelaparan. Untuk mencapai keberhasilan dalam hidup semata-marta diutamakan pada hasil kerja sendiri, dan mereka menjauhkan diri dari sikap nyadhang (menengadahkan telapak tangan ke atas).
Masyarakat Tengger mengharapkan generasi mudanya mampu mandiri seperti ksatria Tengger. Orang tua tidak ingin mempunyai anak yang memalukan, dengan harapan agar anak mampu untuk mikul dhuwur mendhem jero, yaitu memuliakan orangtuanya.
 Sikap mereka terhadap perubahan cukup baik, terbukti mereka dapat menerima pengaruh model pakaian, dan teknologi, serta perubahan lain yang berkaitan dengan cara mereka mengharapkan masa depan yang lebih baik dan berkeyakinan akan datangnya kejayaan dan kesejahteraan masyarakatnya.
 Siklus Hidup Menurut Falsafah Tengger
Ada 3 (tiga) tahap penting siklus kehidupan menurut pandangan masyarakat Tengger, yakni:
 1. umur 0 sampal 21 (wanita) atau 27 (pria), dengan lambang bramacari yaitu masa yang tepat untuk pendidikan;
 2. usia 21 (wanita) atau 27 (pria) sampai 60 tahun lambing griasta, masa yang tepat untuk
 membangun rumah dan mandiri;
 3. 60 tahun ke atas, dengan lambang biksuka, membangun diri sebagai manusia usia lanjut untuk lebih mementingkan masa akhir hidupnya.
 Pada masa griasta ada ungkapan yang berbunyi kalau masih mentah sama adil, kalau sudah masak tidak ada harga, yang dimaksudkan adalah hendaklah manusia itu pada waktu mudanya bersikap adil dan masa dewasa menyiapkan dirinya untuk masa tuanya dan hari akhirnya.
 PERTUNANGAN DAN PERKAWINAN 
Pada umumnya masyarakat Tengger mempunyai pendirian yang cukup bermoral atas perkawinan. Poligami dan perceraian boleh dikatakan tidak pernah terjadi. Perkawinan di bawah umur juga jarang terjadi. Dalam pertunangan (pacangan), lamaran dilakukan oleh orangtua pria. Sebelumnya didahului dengan pertemuan antara kedua calon, atas dasar rasa senang kedua belah pihak. Apabila kedua belah pihak telah sepakat, maka orangtua pihak wanita (sebagai calon) berkunjung ke orangtua pihak pria untuk menanyakan persetujuannya atau notok. Selanjutnya apabila orangtua pihak pria telah menyetujui, diteruskan dengan kunjungan dari pihak orangtua pria untuk menyampaikan ikatan (peningset) dan menentukan hari perkawinan yang disetujui oleh kedua belah pihak. Sesudah itu barulah upacara perkawinan dilakukan.
Sebelum acara perkawinan biasanya telah dimintakan nasihat kepada dukun mengenai kapan sebaiknya hari perkawinan itu dilaksanakan. Dukun akan memberikan saran (menetapkan) hari yang baik dan tepat, ‘papan’ tempat pelaksanaan perkawinan, dan sebagainya. Setelah hari untuk upacara perkawinan ditentukan, maka diawali selamatan kecil (dengan sajian bubur merah dan bubur putih).
 Sebagai kelengkapan upacara perkawinan, maka pasangan pengantin diarak (upacara ngarak) keliling, diikuti oleh empat gadis dan empat jejaka dengan diiringi gamelan. Pada upacara perkawinan pengantin wanita memberikan hadiah bokor tembaga berisi sirih lengkap dengan tembakau, rokok dan lain, sedangkan pengantin pria memberikan hadiah berupa sebuah keranjang berisi buah-buahan, beras dan mas kawin.
Pada upacara asrah pengantin, masing-masing pihak diwakili oleh seorang utusan. Para wakil mengadakan pembicaraan mengenai kewajiban dalam perkawinan dengan disaksikan oleh seoran dukun. Pada upacara pernikahan dibuatkan petra (petara: boneka sebagai tempat roh nenek moyang) supaya roh nenek moyangnya bisa hadir menyaksikan.
 Biasanya setelah melakukan perkawinan kemanten pria harus tinggal dirumah (mengikuti) kemanten wanita.
 HAK WARIS
 Pada dasarnya masyarakat Tengger mempertahankan hak waris tanah untuk anak keturunan mereka saja. Apabila ada keluarga yang terpaksa menjual hak tanah, diusahakan untuk dibeli oleh keluarga yang terdekat. Pewarisan kepada anak-turunannya ditentukan oleh kerelaan pihak orang tua, bukan atas dasar aturan ketat yang dibakukan
TATA RUMAH
 Rumah penduduk Tengger dibangun di atas tanah, yang sedapat mungkin dipilih pada daerah datar, dekat air, atau kalau terpaksa dipilih tanah yang dapat dibuat teras, dan jauh dan gangguan angiñ. Rumah-rumah letaknya berdekatan atau menggerombol pada suatu tempat yang dapat dimasuki dan berbagaf jurusanya  yang dihubungkan dengan jalan sempit atau gak lebar antara satu desa dengan desa lain. Desa induk yang disebut Jcrajan biasa-nya terletak di tengah dengan jaringan jalan-jalan yang menghubungkan dengan desa lain.
 Pembangunan sebuah rumah selalu diawali dengan selamatan, demikiah pula apabila bangunan telah selesai diadakan selamatan lagi. Pada setiap bangunan yang sedang dikejakan selalu terdapat sesajen, yang digantungkan pada tiang-tiang, berupa makanan, ketupat, lepet, pisang raja dan lain-lain. Bangunan rumah orang Tengger biasanya luas sebab pada umumnya dihuni oleh beberapa keluarga bersama-sama, Ada kebiasaan bahwa seorang pria yang baru saja kawin akan tinggal bersama mertuanya.
 Tiang dan dinding rumahnya terbuat dan kayu dan atapnya terbuat dan bambu yang dibelah. Setelah bahan itu sulit diperoleh, dewasa ini masyarakat telah mengubah kebiasaan itu dengan menggunakan atap dan seng, papan atau genteng.
Alat rumah tangga tradisional yang hingga sekarang pada umumnya masih tetap ada adalah balai-balai, semacam dipan yang ditaruh di depan rumah. Di dalam ruangan rumah itu disediakan pula tungku perapian (pra pen) yang terbuat dan batu atau semen. Perapian ini kurang lebih panjangnya 1/4 dari panjang ruangan yang ada. Di dekat perapian terdapat tempat duduk pendek terbuat dari kayu (dingklik bhs jawa) yang meliputi kurang lebih separuh dan seluruh ruangan. Apabila seorang tamu di terima dan dipersilakan duduk di tempat ini menunjukkan bahwa tamu tersebut diterima dengan hormat.
Selain digunakan untuk penghangat tubuh bagi penghuni rumah, perapian juga dimanfaatkan untuk mengeringkan jagung, atau bahan makan lainnya yang memerlukan pengawetan dan ditaruh di atas paga. Dekat tempat perapian itu terdapat pula alat-alat dapur, lesung, dan tangga. Halaman rumah mereka pada umumnya sempit (kecil) dan tidak ditanami pohon-pohonan. Di halaman itu pula terdapat sigiran, tempat untuk menggantungkan jagung yang belum dikupas. Selain itu, sigiran dimanfaatkan untuk menyimpan jagung, sehingga juga berfungsi sebagai lumbung untuk menyimpan sampai panen mendatang.

UNSUR-UNSUR KEBUDAYAAN
BAHASA
 Bahasa yang berkembang di masyarakat suku Tengger adalah bahasa Jawa Tengger yaitu bahasa Jawi kuno yang diyakini sebagai dialek asli orang-orang Majapahit. Bahasa yang digunakan dalam kitab-kitab mantra pun menggunakan tulisan Jawa Kawi. Suku Tengger merupakan salah satu sub kelompok orang Jawa yang mengembangkan variasai budaya yang khas. Kekhasan ini bisa dilihat dari bahasanya, dimana mereka menggunakan bahasa Jawa dialek tengger, tanpa tingkatan bahasa sebagaimana yang ada pada tingkatan bahasa dalam bahasa Jawa pada umumnya.
 PENGETAHUAN
 Pendidikan pada masyarakat Tengger sudah mulai terlihat dan maju dengan dibangunnya sekolah-sekolah, baik tingkat dasar maupun menengah disekitar kawasan Tengger. Sumber pengetahuan lain adalah mengenai penggunaan mantra-mantra tertentu oleh masyarakat Tengger.
TEKNOLOGI
 Dalam kehidupan suku Tengger, sudah mengalami teknologi komunikasi yang dibawa oleh wisatawan-wisatawan domestik maupun mancanegara sehingga cenderung menimbulkan perubahan kebudayaan. Suku Tengger tidak seperti suku-suku lain karena masyarakat Tengger tidak memiliki istana, pustaka, maupun kekayaan seni budaya tradisional. Tetapi suku Tengger sendiri juga memiliki beberapa obyek penting yaitu lonceng perungggu dan sebuah padasan di lereng bagian utara Tengger yang telah menjadi puing.
RELIGI
 Mayoritas masyarakat Tengger memeluk agama Hindu, namun agama Hindu yang dianut berbeda dengan agama Hindu di Bali, yaitu Hindu Dharma. Hindu yang berkembang di masyarakat Tengger adalah Hindu Mahayana. Selain agama Hindu, agama laiin yang dipeluk adalah agama Islam, Protestan, Kristen, dll. Berdasarkan ajaran agama Hindu yang dianut, setiap tahun mereka melakukan upacara Kasono. Selain Kasodo, upacara lain yaitu upacara Karo, Kapat, Kapitu, Kawulo, Kasanga. Sesaji dan mantra amat kental pengaruhnya dalam masyarakat suku Tengger. Masyarakat Tengger percaya bahwa mantra-mantra yang mereka pergunakan adalah mantra-mantra putih bukan mantra hitam yang sifatnya merugikan.
ORGANISASI SOSIAL
-          PERKAWINAN
Sebelum ada Undang-Undang perkawinan banyak anak-anak suku Tengger yang kawin dalam usia belia, misalnya pada usia 10-14 tahun. Namun, pada masa sekarang hal tersebut sudah banyak berkurang dan pola perkawinannya endogami. Adat perkawinan yang diterapkan oleh siuku Tengger tidak berbeda jauh dengan adat perkawinan orang Jawa hanya saja yang bertindak sebagai penghulu dan wali keluarga adalah dukun Pandita. Adat menetap setelah menikah adalah neolokal, yaitu pasangan suami-istri bertempat tinggal di lingkungan yang baru. Untuk sementara pasangan pengantin berdiam terlebih dahulu dilingkungan kerabat istri.
-          SISTEM KEKERABATAN
 Seperti orang Jawa lainnya, orang Tengger menarik garis keturunan berdasarkan prinsip bilateral yaitu garis keturunan pihak ayah dan ibu. Kelompok kekerabatan yang terkecil adalah keluarga inti yang terdiri dari suami, istri, dan anak-anak.
-          SISTEM KEMASYARAKATAN.
 Masyarakat suku Tengger terdiri atas kelompok-kelompok desa yang masing-masing kelompok tersebut dipimpin oleh tetua. Dan seluruh perkampungan ini dipimpin oleh seorang kepala adat. Masyarakat suku Tengger amat percaya dan menghormati dukun di wilayah mereka dibandingkan pejabat administratif karena dukun sangat berpengaruh dalam kehidupan masyarakat Tengger. Masyarakat Tengger mengangkat masyarakat lain dari luar masyarakat Tengger sebagai warga kehormatan dan tidak semuanya bisa menjadi warga kehormatan di masyarakat Tengger. Masyarakat muslim Tengger biasanya tinggal di desa-desa yang agak bawah sedangkan Hindu Tengger tinggal didesa-desa yang ada di atasnya.
MATA PENCAHARIAN
 Pada masa kini masyarakat Tengger umumnya hidup sebagai petani di ladang. Prinsip mereka adalah tidak mau menjual tanah (ladang) mereka pada orang lain. Macam hasil pertaniannya adalah kentang, kubis, wortel, tembakau, dan jagung. Jagung adalah makanan pokok suku Tengger. Selain bertani, ada sebagian masyarakat Tengger yang berprofesi menjadi pemandu wisatawan di Bromo. Salah satu cara yang digunakan adalah dengan menawarkan kuda yang mereka miliki untuk disewakan kepada wisatawan.
KESENIAN
 Tarian khas suku Tengger adalah tari sodoran yang ditampilkan pada perayaan Karo dan Kasodo. Dari segi kebudayaan, masyarakat Tengger banyak terpengaruh dengan budaya pertanian dan pegunungan yang kental meskipun sebagian besar budaya mereka serupa dengan masyarakat Jawa umumnya, namun ada pantangan untuk memainkan wayang kulit.